Konsepsi Masyarakat Batak Tentang Sahala
Konsep Batak mengenai tondi sering digunakan sebagai bukti untuk menopang pandangan tertentu mengenai bentuk primitif agama. Dalam konsep Batak, manusia dianggap memiliki tondi (zat yang tidak tampak). Tondi biasa diterjemahkan dengan kata “roh”. Tondi ini menyertai seseorang selama hidupnya, namun jika orang yang berangkutan menderita sakit, ia meninggalkannya selama panyakit belum sembuh. Ia meninggalkan jasad untuk selama-lamanya jika orang itu mati, dan jadilah ia tondi ni na mate (roh orang yang sudah meninggal). Ada pendapat dalam konsep masyarakat Batak Toba yang mengatakan, bahwa sebelum tondi masuk kedalam kandungan, Debata (sebagai Allah tertinggi dalam Masyarakat Batak Toba) menanyakan apa yamg menjadi permintaan dan pilihan dari tondi tersebut, kemudian itulah yang diberikan Debata menjadi bagiannya. Untuk selengkapnya dapat dilihat dari ungkapan berikut ini:
Painte so ro dope tondi I tu na di bortian, djolo Debata do manang aha pangidoanna djala manang dia dipillit tondi I, I do dipasahat Debata gabe bagianna. Debata do maniop tondi ni djolma. Di tingki andorang so sorang dope djolma tu hasiangan on, nunga dipangido hian tu Debata. Ia na denggan dipangido na denggan ro. Di debata do tondi ni na mangolu dohot na mate dohot na naeng tubu djala di sude halak do adong Debata dohot di nasa marhosa. Tondi I do na manontuhon parngoluan dohot bagian ni djolma. Di na laho djadi djolma I, mangido ma ibana tu Ompunta Mula Djadi taringot di bagianna. Radja molo ninna, saut radja; molo dipangido panangko saut panangko.
(sebelum tondi di dalam kandungan, Debata telah lebih dulu menanyakan apa yang dipilih dan jadi permintaan tondi tersebut, dan itulah yang diberikan menjadi bagiannya. Debatalah yang memegang tondi manusia. Sebelum manusia lahir kedalam dunia, sudah terlebih dahulu diminta. Jika yang baik yang diminta yang baik jugalah yang datang. Pada Debatalah tondi yang hidup yang mati, yang mau lahir dan pada semua orang ada Debata dan di semua yang bernafas/bernyawa. Ketika manusia itu mau dijadikan, memintalah ia kepada Ompunta Mula Djadi akan bagiannya. Jika ingin menjadi raja; maka akan menjadi raja; jika ingin menjadi pencuri, akan menjadi pencuri)
Berdasarkan ungkapan diatas, dapat dikatakan bahwa tondi adalah diri manusia itu sendiri, dan dimulai dari Debata. Debata-lah yang memegang tondi manusia, tondi seluruh makhluk yang bernafas/bernyawa. Sebelum masuk kedalam kandungan, dikatakan bahwa tondi akan meminta kepada Debata apa yang menjadi keinginan atau dapat dikatakan apa yang menjadi nasibnya. Dengan kata lain tondi itu sendiri dapat memilih apa yang menjadi keinginannya/ nasibnya, tetapi ketika keinginan itu telah dipilih dan ditentukan oleh tondi itu, maka tidak ada kemungkinan untuk beberpa perubahan, karena itu telah dipilih dan ditentukan oleh tondi tersebut.
Menurut J. Pardede, kehidupan religius dari Batak Toba dibentuk berdasarkan perhatian khususnya dalam hal perwujudan tondi-nya, yang mana dalam hal ini tondi diartikan sebagai perlengkapan/yang mengisi jiwa (“soul-stuff). Menurutnya, gambaran dari tondi adalah sebagai sifat dari sebuah objek material, tanpa bentuk seperti udara. Tondi tinggal diseluruh bagian dari tubuh, dimana tondi dan person adalah suatu keutuhan bukan terpisah. Tondi dilihat sebagai sesuatu keberadaan yang independen dan dilihat sebagai sesuatu yang mempengaruhi kebahagiaan masa sekarang dan masa yang akan datang. Tondi dilihat sebagai sesuatu hal yang menentukan nasib dari manusia.
Dalam konsepsi Batak, tondi digambarkan memiliki sesuatu kemampuan untuk bergerak keluar dari jasad seseorang sedang tidur. Jika hal ini benar-benar terjadi pada tondi maka orang yang tidur itu dapat mengingat kembali semuanya di saat dia bangun, dan dia juga dapat memahami arti yang terdapat dalam tondinya. Jika tondi meninggalkan jasad seseorang yang dalam keadaan jaga maka hal itu akan sangat membahayakan orang tersebut. Hal ini dapat terjadi karena situasi ketakutan yang berbahaya.
Demikianlah penjelasan singkat mengenai konsepsi masyarakat Batak Toba mengenai tondi. Sekarang saya akan menjelaskan konsepsi masyarakat Batak Toba tentang sahala dan hubungannya dengan tondi.
Menurut Tobing, sahala adalah sifat pribadi, watak yang alamiah seperti takdir manusia4. Untuk keterangan lebih lanjut, dapat dilihat dari ungkapan berikut ini:
Sahala tong do i sian Mula Djadi. Naung sinihathon hian do i tu angka na boi mandjalo. Sahala mamora tu na mora, sahala martua tu na boi martua, sahala harajaon tu na boi raja, sahala datu tu na boi datu. adong do sahala panangko, alai na so hea do dapot ibana tingki manangko. Adong do nang sahala pamunu. Adong do nang sahala hatungkangon, hapistaran. Tingki di bortian dope jolma I nunga dilehon Mula Djadi na Bolon sahala tusi. Disungkun Mula Djadi na Bolon do djolo tondi ni na di bortian i: “Haruar ma ho sian bortian i?” djadi alusna: “Ndang dope haruar ahu Ompung Mula Djadi na Bolon, ndang sungkup dope pangidoanku”. “Aha dope huroha pangidoanmu, ai nunga sungkup angka pamatangmu?” Djadi dipangido ma di tingki i sipangidoanna na hombar tu ibana rupani songon on: angka na gabe, na mora, angka na pistar. Di gindjang di Mula Djadi do sahala i painte so dilehon tu djolma i. Molo ndang tahan tondina mandjungdjung manigor laho do sahala i tu nampunasa Ompunta Mula Djadi.
(Sahala berasal dari Mula Djadi. Yang telah dibagikan kepada setiap orang yang boleh menerimanya. Sahala kekayaan diberikan kepada orang yang ,emjadi kaya dalam hidupnya, sahala kebahagiaan diberikan kepada orang yang menjadi bahagia dalam hidupnya. Menjadi raja diberikan sahala raja dan sahala datu diberikan diberikan kepada orang yang akan menjadi datu (dukun). Ketika manusia masih dalam kandungan Mula Djadi na Bolon telah memeberikan sahala kepadanya. Pertama-tama Mula Djadi na Bolon akan menanyakan tondi manusia yang berada dalam kandungan tersebut “keluarlah engakau dari kandungan?” kemudian jawabnya: ”aku belum keluar Ompung Mula Djadi na Bolon, permintaanku belum terpenuhi”. “Apalagi yang engkau inginkan? Karena anggota tubuhmu sudah tumbuh?”. Jadi dimintalah ketika itu apa yang menjadi permintaannya: sahala untuk mempunyai anak, untuk menjadi kaya dan pintar. Sahala itu bersama-sama dengan dengan Mula Djadi sebelum diberikan kepada manusia. Sahala itu dapat menghilang dan pergi, ketika tondi-nya tidak tahan menjaga dan memempertahankan maka sahala itu akan kembali lagi kepada Ompunta Mula Djadi sebagai asala dan yang mempunyai sahala tersebut).
Berdasarkan keterangan diatas, dapat dikatakan bahwa sahala itu adalah sesuatu yang berasal dari Mula Djadi na Bolon, setiap orang boleh menerimanya. Sahala merupakan wujud dari permintaan dan keinginan seseorang dalam kehidupannya kelak, karena dalam konsepnya sahala itu diberikan ketika manusia masih dalam kandungan. Dan yang menarik disini adalah bahwa sahala itu diberikan kepada setiap manusia namun sahala itu dapat menghilang ataupun peergi dari manusia itu sendiri apabila manusia yang menerimanya tidak dapat menjaga dan memeliharanya, sahala akan kembali kepada Mula Djadi na Bolon. seseorang dapat dikatakan mempunyai sahala dalam kehidupannya apabila seseorang itu dapat mencapai apa yang diinginkannya dalam kehidupannya dan itu telah dimintanya ketika masih dalam kandungan atau dengan kata lain permintaannya kepada Mula Djadi na Bolon ketika masih dalam kandungan dapat terwujud dalam kehidupannya ketika dia hidup dalam dunia. Menurut pendapat saya dan berdasarkan pernyataan yang ada sebelumnya, saya berpendapat bahwa sahala itu dapat dikatakan sebagai inner beauty dari seseorang, karena sahala itu pancaran atau kekuatan yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri (dalam hal ini dapat dikatakan sebagai pancaran dari tondi itu sendiri).
Sahala adalah unsur roh (tondi), daya khusus, daya hidup dari tondi yang dapat memberikan berbagai berkat kepada manusia, seperti keberanian (sahala habaranion), kekayaan (sahala hamoraon), kekuasaan (sahala harajaon), pengobatan (sahala hadatuon), dan berbagai kemampuan lain kepada orang yang memilikinya. Seseorang yang memiliki sahala akan menerima penghormatan dan kemuliaan dari orang lain, terlebih jikalau kekuatan sahalanya sangat besar seperti yang terdapat pada Sisingamangaraja, dan para datu. Sahala yang dimiliki seseorang dapat mempengaruhi kehidupan orang-orang lain yang ada disekitarnya, sehingga mereka mendapat berkat (tua) dari sahala tersebut5.
Dalam tulisannya Pengerian ‘mana’ pada Batak Toba, Dr. Fischer melihat tondi dan sahala sebagai dua hal yang berbeda, walaupun menurutnya konsep sahal memilki kedekatan dengan konsep roh. Menurutnya, definisi sahala yang paling tepat adalah merupakan sebagai atribut khusus dari tondi. Tetapi J.C. Vergouwen membuat hubungan anatara sahala dan tondi lebih dekat lagi., yaitu dengan mengatakan bahwa sahala adalah sebaga daya khusus dari tondi, dan yang sering bisa dilihat dengan jelas. Menurutnya, sahala seseorang adalah daya tondi-nya sendiri dalam bentuk yang paling aktif dan paling mungkin dilihat. Saya setuju dengan pendapat Vergouwen ini, karena menurut saya sahala itu juga merupakan bagian dari tondi, tondi-lah yang mempertahankan sahala tersebut dan apabila dilihat tentang ungkapan mengenai tondi pada bagian sebelumnya disana dijelaskan bahwa tondi mengajukan permohonan dan yang menerima sahala tersebut. Jadi, tondi dan sahala berhubungan, karena sahala adalah daya tondi yang paling mungkin dapat dilihat terutama dalam kehidupan. Sahala dalam konsep masyarakat Batak Toba berhubungan dengan “sukses” manusia dalam kadar yang lebih tinggi lagi. Sahala dapat juga dikatakan sebagai karunia yang diberikan kepada manusia oleh Mula Djadi na Bolon, yang nantinya diwujudkan dalam kehidupan manusia ketika ia terlahir ke dunia.
Dalam konsep masyarakat Batak, tujuan hidup (pencapaian) dibagi atas dalam tiga tingkatan yaitu: hamoraon, hagabeon dan hasangapon. Pencapaian dalam ketiga hal ini merupakan ukuran keberhasilan seseorang dalam masyarakat Batak.
Hamoraoan dapat diartikan sebagai seuatu keadaan manusia yang kaya raya. Hal inilah yang mendasari masyarakat Batak untuk mencari harta yang lebih banyak lagi dalam kehidupannya. Hagabeon adalah merupakan suatu keadaan manusia dimana manusia memiliki banyak keturunan, hal ini biasanya dapat dilihat pada waktu upacara pernikahan dengan adanya pernyataan untuk mempunyai anak 17 dan boru 16 (keturunan yang banyak). Hagabeon seseorang dikatakan sempurna apabila dalam hidupnya bisa melihat dan mempunyai cucu dari anak laki-laki dan perempuan dan juga mempunyai cicit (dari cucu perempuan dan laki-laki). Sedangkan hasangapon secara harafiah dapat diartikan sebagai terpuji, berwibawa, terhormat dan nyaris tanpa cela. Jadi dapat dikatakan seseorang itu memilki hasangapon yaitu ketika ia mencapai status tinggi dalam kehidupannya. Hasangapon juga dapat diartikan sebagai kemuliaan, kewibawaan, kharisma, suatu nilai utama yang memberi dorongan kuat untuk meraih kejayaan. Nilai ini memberi dorongan kuat, lebih-lebih pada orang Toba, pada jaman modern ini untuk meraih jabatan dan pangkat yang memberikan kemuliaan,kewibawaan, kharisma dan kekuasaan. Dan yang menjadi hal yang penting diingat adalah yang dimaksudkan dengan hasangapaon dalam masyarakat Batak bukan hanya menyagkut masalah dibidang materi saja, tetapi juga menyangkut kedudukan dan status seseorang dalam adat-istiadat di dalam masyarakat.
Hasangapaon dalam kehidupan masyarakat Batak dapat dilihat dalam peristiwa kematian, pernikahan dan pendirian tugu. Dalam peristiwa kematian, keluarga yang ditinggalakan oleh orang yang meninggal akan melakukan suatu kegiatan (pesta) yang besar untuk menghormati yang meninggal tersebut. Dalam hal ini tujuannya adalah agar orang yang telah meninggal tersebut marsangap (dihormati, dihargai, dan mempunyai kharisma) dihadapan masyarakat umum. Dalam realita kehidupan masyarakat Batak hasangapon seseorang dapat dilihat dalam hal pengertian seseorang dalam ber-adat-istiadat, karena dalam kehidapun masyarakat Batak tidak lepas dari yang namanya adat-istiadat Batak. Adat-istiadat ini juga dipakai untuk melihat hasangapon seseorang. Seperti dalam hal pernikahan dalam masyarakat Batak, dimana dalam pesta pernikahan tersebut pihak laki-laki akan berusaha untuk melakukan suatu pesta besar untuk mencari hasangapon, terutama hasangapon dari pihak perempuan (hula-hula), dengan tujuan agar dapat memperoleh berkat dari pihak perempuan, menghormati (mamparsangap) pihak perempuan (hula-hula) dan dengan tujuan agar keluarga tersebut sangap (dihormati) di masyarakat umum.

